TEORI-TEORI BELAJAR DAN PEMBELAJARAN
Diajukan
untuk memenuhi tugas mata kuliah Strategi Belajar dan Pembelajaran Matematika yang
dibimbing oleh Dr. Nur Izzati,
Di susun oleh :
RINA ENJELINA (150384202030)
SYARFINA WITRI (150384202069)
UNIVERSITAS MARITIM RAJA ALI HAJI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
PRODI MATEMATIKA
TANJUNGPINANG
T.A 2016/2017
Bismillahirrahmanirrahim
Puji syukur kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa yang selalu melimpahkan rahmat dan hidayah-nya, sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul Teori-Teori Belajar dan
Pembelajaran.
Makalah ini berisi pembahasan tentang teori-teori
belajar dan pembelajaran, penulis
menuliskannya dengan mengambil dari berbagai sumber baik yang diambil dari berbagai buku dan internet.
Penulis
juga menyadari bahwa makalah yang penulis tulis ini masih banyak kekurangan.
Karena itu sangat diharapkan bagi pembaca untuk menyampaikan saran atau kritik
yang membangun demi tercapainya makalah yang lebih baik.
Tanjungpinang, Maret
2017
Kelompok 8
Belajar
dianggap sebagai proses perubahan prilaku sebagai akibat dari pengalaman dan
latihan.menurut Hilgard ’’ Learning is
the process by wich an activity originates or changed through training
procedurs (wether in the loboratory or in the naural environment) as
distinguished from canges by factors not atributable to training.’’ Belajar
adalah proses perubahan melalui kegitan atau prosedur latihan baik latihan di
dalam laboratorium maupun dalam lingkungan alamiah.
Belajar
bukanlah sekedar mengumpulkan pengetahuan. Belajar adalah proses mental yang
terjadi dalam terjadi dalam diri seseorang, sehinggaa menyebabkan munculnya perubahan
prilaku. Aktivitas mental itu terjadi karena adnya interaksi individu dengan
lingkungan yang disadari.
Proses
belajar pada hakikatnya merupakan kegiatan mental yang tidak dapat dilihat.
Artinya, proses perubahan yang terjadi dalam diri seseorang yang belajar tidak
dapat kita saksikan. Kita hanya mungkin
dapat menyaksikan dari adanya gejala-gejala perubahan prilaku yang tampak.
Misalnya, ketika seorang guru menjelaskan suatu materi pelajaran, walaupun
sepertinya seorang siswa memperhatikan dengan saksam sambil
mengangguk-nganggukkan kepala, maka belum tentu yang bersangkutan belajar.
Mungkin mengangguk-nganggukkan kepala itu bukan karena ia memerhatikan materi
pelajarn dan paham apa yang dikatakan guru, akn tetapi ia sangat mengagumi
penampilan guru, sehingga ketika ia ditanya apa yang telah disampaikan guru ia
tidak mengerti apa-apa. Sehingga pada kasus ini siswa tersebut dapat dikatakan
tidak sedang belajar. Karena tidak menampakkan perubahan tingkah laku.
1. Jelaskan apa saja yang berkaitan dengan teori-teori
belajar dan pembelajaran!
1. Untuk mengetahui apa saja yang berkaitan dengan
teori-teori belajar dan pembelajaran.
Teori belajar berpangkal pada
pandangan hakikat manusia, yaitu hakikat manusia menurut pandangan john locke
‘’manusia merupakan organisme yang pasif. Locke menganggap bahwa manusia itu
seperti kertas putih, hendak ditulisi apa kertas itu sangat tergantung pada
orang yang menulisnya.’’ Dari pandnagan ini muncul aliran belajar
behavioristik-elementeristik.
Sedangkan menurut Leibnitz pandangan
mengenai hakikat manusia adalah organisme yang aktif. Manusia merupakan sumber
daripada semua kegiatan. Pada dasarnya manusia bebas untuk berbuat, manusia
bebas untuk membuat pilihan dalam setiap situasi. Titik pusat kebebasan ini
adalah kesadarannya sendiri. Dari pandangan ini muncul aliran belajar yaitu
belajar [pkkognitif-holistik.
Menurut
aliran behavioristik, belajar
pada hakikatnya adalah
pembentukan asosiasi antara kesan yang ditangkap oleh panca indra dengan kecenderungan
untuk bertindak atau hubungan antara stimulus dan respons (R-S). belajar adalah
upaya untuk membentuk hubungan stimulus dan respons sebanyak-banyaknya.
Teori-teori belajar yang termasuk ke
dalam kelompok behavioristik diantaranya:
1. Koneksionisme, dengan tokohnya
Thorndike
Teori koneksionisme yang dipelopori oleh Thorndike,
memandang bahwa yang menjadi dasar terjadinya belajar adalah adanya asosiasi
antara kesan panca indera (sense of
impression) dengan dorongan yang muncul untuk bertindak (impuls to action). (Ini artinya, toeri
behaviorisme yang lebih dikenal dengan nama contemporary
behaviorist ini memandang bahwa belajar akan terjadi pada diri anak, jika
anak mempunyai ketertarikan terhadap masalah yang dihadapi. Siswa dalam konteks
ini dihadapkan pada sikap untuk dapat memilih respons yang tepat dari berbagai
respons yang mungin bisa dilakukan. Contohnya saat seorang anak melihat
setangkai bunga yang cantik dan harum dapat menjadi stimulus yang dapat
mengakibatkan munculnya respon untuk memetiknya. Menurut Thorndike, belajar
akan berlangsung pada diri siswa jika siswa berada dalam tiga macam hukum
belajar, yaitu : 1) The Law of Readiness
(hokum kesiapan belajar). Pada hukum ini hubungan antara stimulus dan respon
akan mudah terbentuk manakala ada kesiapan dalam diri individu. Keberhasilan
belajar seseorang sangat tergantung dari ada atau tidaknya adanya kesiapan. 2) The Law of Exercise (hukum latihan).
Hukum ini menunjukkan bahwa hubungan stimulus dan respon akan semakin kuat
manakala teru-menerus dilatih atau diulang-ulang.misalnya semakin sering
pelajaran diulang maka akan semakin dikuasailah pelajaran itu. dan 3) The Law of Effect (hokum pengaruh). Hukum ini menunjukkan kepada kuat atau
lemahnya hubungan stimulus dan respon tergantung pada akibat yang
ditimbulkannya. Apabila respon yang di berikan seseorang mendatangkan
kesenangan, maka respon tersebut akan di teruskan dan diulang;sebaliknya,
apabila resppon yang diberikan mendatangkan akibat yang tidak mengenakkan maaka
respon tersebut akan diberhentikan.Hukum kesiapan belajar ini merupakan prinsip
yang menggambarkan suatu keadaan si
pembelajar (siswa) cenderung akan mendapatkan kepuasan atau dapat juga
ketidakpuasan.
2. Classical conditioning, dengan
tokohnya Pavlov dan watson
Konsep teori yang dikemukakan oleh Ivan
Petrovitch Pavlov dan watson ini secara
garis besar tidak jauh berbeda dengan pendapat Thorndike. Jika Throndike ini menekankan
tentang hubungan stimulus dan respons, dan di sini guru sebaiknya tahu tentang
apa yang akan diajarkan, respons apa yang diharapkan muncul pada diri siswa,
serta tahu kapan sebaiknya hadiah sebagai reinforcement
itu diberikan; maka Pavlov lebih mencermati arti pentingnya penciptaan kondisi atau lingkungan yang
diperkirakan dapat menimbulkan respons pada diri siswa.
3. Operant conditioning, yang
dikembangkan oleh Skinner
Merupakan pengembangan dari teori stimulus
respon. Berbeda dengan tokoh-tokoh yang lain Skinner membedakan dua macam
respon, yakni respondent response dan operant response. Respondent response
adalah respon yang ditimbulkan oleh perangsang-perangsang tertentu, misalnya
perangsang stimulus makanan menimbulkan keluarnya air liur. Operant response
adalah respon yang timbul dan berkembangnya diikuti oleh perangsang-perangsang
tertentu.
4. Systematic behavior, yang
dikembangkan oleh hull
Semua fungsi tingkah laku bermanfaat terutama untuk
menjaga agar organisme tetap bertahan hidup. Dorongan belajar (stimulus)
dianggap sebagai sebuah kebutuhan biologis agar organisme mampu bertahan hidup.
5. Contiguous conditioning, yang
dikembangkan oleh Guthrie
Pendapat
Thorndike dan Pavlov ini ditegaskan lagi oleh Guthrie, di mana ia menyatakan
dengan hukumnya yaitu “The Law of
Association”, yang berbunyi : “A
combination of stimuli which has accompanied a movement will on its recurrence tend to be followed
by that movement” (Guthrie, 1952 :13).
Secara sederhana dapat diartikan bahwa gabungan atau kombinasi suatu kelas
stimuli yang menyertai atau mengikuti suatu gerakan tertentu, maka ada
kecenderungan bahwa gerakan itu akan diulangi lagi pada situasi/stimuli yang
sama.
Teori behavioristik yang menekankan adanya hubungan antara
stimulus (S) dengan respons (R) secara umum dapat dikatakan memiliki arti yang
penting bagi siswa untuk meraih keberhasilan belajar. Caranya, guru banyak
memberikan stimulus dalam proses pembelajaran, dan dengan cara ini siswa akan
merespons secara positif apa lagi jika diikuti dengan adanya reward yang berfungsi sebagai reinforcement (penguatan terhadap
respons yang telah ditunjukkan). Oleh karena
teori ini berawal dari adanya percobaan sang tokoh behavioristik terhadap
binatang, maka dalam konteks pembelajaran ada beberapa prinsip umum yang harus diperhatikan.
Menurut Mukinan (1997:
23), beberapa prinsip
tersebut adalah:
1.
Teori
ini beranggapan bahwa yang dinamakan belajar adalah perubahan tingkah laku.
Seseorang dikatakan telah belajar sesuatu jika yang bersangkutan dapat menunjukkan
perubahan tingkah laku tertentu.
2.
Teori
ini beranggapan bahwa yang terpenting dalam belajar adalah adanya stimulus dan
respons, sebab inilah yang dapat diamati. Sedangkan apa yang terjadi di
antaranya dianggap tidak penting karena tidak dapat diamati.
3.
Reinforcement, yakni apa saja yang dapat menguatkan
timbulnya respons, merupakan faktor
penting dalam belajar. Respons akan semakin kuat apabila reinforcement (baik positif maupun negatif) ditambah.
Jika yang menjadi titik tekan dalam
proses terjadinya belajar pada diri
siswa
adalah timbulnya hubungan antara stimulus dengan respons, di mana hal ini
berkaitan dengan tingkah laku apa yang ditunjukkan oleh siswa, maka penting
kiranya untuk memperhatikan hal-hal lainnya di bawah ini, agar guru dapat mendeteksi
atau menyimpulkan bahwa proses pembelajaran itu telah berhasil. Hal yang
dimaksud adalah sebagai berikut :
1.
Guru
hendaknya paham tentang jenis stimulus apa yang tepat untuk diberikan kepada
siswa.
2.
Guru
juga mengerti tentang jenis respons apa yang akan muncul pada diri siswa.
3.
Untuk
mengetahui apakah respons yang ditunjukkan siswa ini benar-benar sesuai dengan
apa yang diharapkan, maka guru harus mampu :
a. Menetapkan bahwa respons itu dapat
diamati (observable)
b. Respons yang ditunjukkan oleh siswa
dapat pula diukur (measurable)
c. Respons yang diperlihatkan siswa
hendaknya dapat dinyatakan secara eksplisit atau jelas kebermaknaannya
(eksplisit)
d. Agar respons itu dapat senantiasa
terus terjadi atau setia dalam ingatan/tingkah laku siswa, maka diperlukan
sekali adanya semacam hadiah (reward).
Aplikasi teori behavioristik dalam
proses pembelajaran untuk memaksimalkan tercapainya tujuan pembelajaran (siswa
menunjukkan tingkah laku / kompetensi sebagaimana telah dirumuskan), guru perlu
menyiapkan dua hal, sebagai berikut:
a.
Menganalisis
Kemampuan Awal dan Karakteristik Siswa
b.
Merencanakan
materi pembelajaran yang akan dibelajarkan
Sedangkan langkah umum yang dapat
dilakukan guru dalam menerapkan teori behaviorisme dalam proses pembelajaran
adalah :
1.
Mengidentifikasi
tujuan pembelajaran.
2.
Melakukan
analisis pembelajaran.
3.
Mengidentifikasi
karakteristik dan kemampuan awal pembelajar.
4.
Menentukan
indikator-indikator keberhasilan belajar.
5.
Mengembangkan
bahan ajar (pokok bahasan, topik, dll).
6.
Mengembangkan
strategi pembelajaran (kegiatan, metode, media dan waktu).
7.
Mengamati
stimulus yang mungkin dapat diberikan (latihan, tugas, tes dan sejenisnya).
8.
Mengamati
dan menganalisis respons pembelajar.
9.
Memberikan
penguatan (reinfrocement) baik
posistif maupun negatif, serta
10. Merevisi
kegiatan pembelajaran.
Kelemahan Teori
Behavioristik
a) Hanya
mengakui adanya stimulus dan respon yang dapat diamati
b) Kurang
memberikan ruang gerak yang bebas bagi pebelajar untuk berkreasi,
bereksperimentasi dan mengembangkan kemampuannya sendiri
c) Pebelajar
berfikir linier, konvergen, tidak kreatif dan tidak produktif
d) Pebelajar
atau orang yang belajar harus dihadapkan pada aturan-aturan yang jelas dan
ditetapkan terlebih dulu secara ketat
e) Kontrol
belajar harus dipegang oleh sistem yang berada di luar diri pebelajar
Kelebihan Teori Behavioristik
Sesuai untuk
perolehan kemampuan yang membutuhkan praktik dan pembiasaan yang mengandung
unsur-unsur seperti kecepatan, spontanitas, kelenturan, reflex.
Pada teori belajar kognitivisme,
belajar adalah pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan perseptual untuk
memperoleh pemahaman. Tujuan dan tingkahlaku sangat dipengaruhi oleh proses
berfikir internal yang terjadi selama proses belajar.
Teori-teori
yang termasuk ke dalam kelompok kognitif di antaranya:
a) Teori Gestalt dari Wertheimer dkk
Menekankan pada kebermaknaan dan pengertian sehingga
tidak menimbulkan ambiguitas dalam proses pembelajaran.
b) Teori Schemata Piaget
Teori ini mengatakan bahwa pengalaman kependidikan
harus dibangun di sekitar struktur kognitif siswa. Struktur kognitif ini bisa
dilihat dari usia serta budaya yang dimilik oleh siswa.
Teori Kognitif Jean
Piaget
Teori
perkembangan kognitif piaget adalah salah satu teori yang menjelaskan bagaimana
anak beradaptasi dengan dan menginterpretasikan objek dan kejadian-kejadian
disekitarnya. Bagaimana anak mempelajari ciri-ciri dan fungsi dari objek-objek,
seperti mainan, perabot, dan makanan, serta objek-objek social seperti diri,
orang tua dan teman.
Pada
pandangan piaget (1952), kemampuan atau perkembangan kognitif adalah hasil dari
hubungan perkembangan otak dan system nervous dan pengalaman-pengalaman yang
membantu individu untuk beradaptasi dengan lingkungannya.
Piaget
(1964) berpendapat, karena manusia secara genetik sama dan mempunyai pengalaman
yang hampir sama, mereka dapat diharapkan untuk sungguh-sungguh memperlihatkan
keseragaman dalam perkembangan kognitif mereka. Oleh karena itu, dia
mengembangkan empat tahap tingkatan perkembangan kognitif yang akan terjadi
selama masa kanak-kanak sampai remaja, yaitu sensori motor (0-2 tahun) dan
praoperasional (2-7 tahun). Yang akan kita bicarakan untuk masa kanak-kanak
adalah dua tahap ini lebih dahulu, sedangkan dua tahap yang lain, yaitu
operasional konkret (7-11 tahun) dan operasional formal (11-dewasa), akan kita
bicarakan pada masa awal pubertas dan masa remaja.
Dalam
teori perkembangan kognitif Piaget, masa remaja adalah tahap transisi dari
penggunaan berpikir konkret secara operasional ke berpikir formal secara
operasional. Remaja mulai menyadari batasan-batasan pikiran mereka. Mereka
berusaha dengan konsep-konsep yang jauh dari pengalaman mereka sendiri.
Inhelder dan Piaget (1978) mengakui bahwa perubahan otak pada pubertas mungkin
diperlukan untuk kemajuan kognitif remaja.
B. Tahap-Tahap
Perkembangan Kognitif Piaget
Menurut Jean Piaget,
perkembangan manusia melalui empat tahap perkembangan kognitif dari lahir
sampai dewasa. Setiap tahap ditandai dengan munculnya kemampuan intelektual
baru di mana manusia mulai mengerti dunia yang bertambah kompleks.
|
Tahap-Tahap
|
Umur
|
Kemampuan
|
|
Sensori-motorik
|
0-2 tahun
|
Menunjuk pada konsep
permanensi objek, yaitu kecakapan psikis untuk mengerti bahwa suatu objek
masih tetap ada. Meskipun pada waktu itu tidak tampak oleh kita dan tidak
bersangkutan dengan aktivitas pada waktu itu. Tetapi, pada stadium ini
permanen objek belum sempurna.
|
|
Praoperasional
|
2-7 tahun
|
Perkembangan
kemampuan menggunakan simbol-simbol yang menggambarkan objek yang ada di
sekitarnya. Berpikir masih
egosentris dan
berpusat.
|
|
|
|
|
Operasional
|
7-11 tahun
|
Mampu berpikir logis.
Mampu konkret memperhatikan lebih dari satu dimensi sekaligus dan juga dapat
menghubungkan dimensi ini satu sama lain. Kurang egosentris. Belum bisa
berpikir abstrak.
|
|
Operasional formal
|
11tahun-dewasa
|
Mampu berpikir
abstrak dan dapat menganalisis masalah secara ilmiah dan kemudian
menyelesaikan masalah.
|
Periode sensorimotor
Menurut Piaget, bayi lahir
dengan sejumlah refleks bawaan
selain juga dorongan untuk mengeksplorasi dunianya. Skema awalnya dibentuk
melalui diferensiasi refleks bawaan tersebut. Periode sensorimotoradalah
periode pertama dari empat periode. Piaget berpendapat bahwa tahapan ini
menandai perkembangan kemampuan dan pemahaman spatial penting dalam enam
sub-tahapan:
1. Sub-tahapan skema
refleks, muncul saat lahir sampai usia enam minggu dan berhubungan terutama
dengan refleks.
2. Sub-tahapan fase
reaksi sirkular primer, dari usia enam minggu sampai empat bulan dan
berhubungan terutama dengan munculnya kebiasaan-kebiasaan.
3. Sub-tahapan fase
reaksi sirkular sekunder, muncul antara usia empat sampai sembilan bulan dan
berhubungan terutama dengan koordinasi antara penglihatan dan pemaknaan.
4. Sub-tahapan koordinasi
reaksi sirkular sekunder, muncul dari usia sembilan sampai duabelas bulan, saat
berkembangnya kemampuan untuk melihat objek sebagai sesuatu yang permanen walau
kelihatannya berbeda kalau dilihat dari sudut berbeda (permanensi objek).
5. Sub-tahapan fase
reaksi sirkular tersier, muncul dalam usia dua belas sampai delapan belas bulan
dan berhubungan terutama dengan penemuan cara-cara baru untuk mencapai tujuan.
6. Sub-tahapan awal
representasi simbolik, berhubungan terutama dengan tahapan awal kreativitas.
Tahapan praoperasional
Tahapan ini merupakan
tahapan kedua dari empat tahapan. Dengan mengamati urutan permainan, Piaget
bisa menunjukkan bahwa setelah akhir usia dua tahun jenis yang secara
kualitatif baru dari fungsi psikologis muncul. Pemikiran
(Pra)Operasi dalam teori Piaget adalah prosedur melakukan tindakan secara
mental terhadap objek-objek. Ciri dari tahapan ini adalah operasi mental yang
jarang dan secara logika tidak memadai. Dalam tahapan ini, anak belajar menggunakan dan
merepresentasikan objek dengan gambaran dan kata-kata. Pemikirannya masih
bersifat egosentris: anak kesulitan untuk melihat dari sudut pandang orang
lain. Anak dapat mengklasifikasikan objek menggunakan satu ciri, seperti
mengumpulkan semua benda merah walau bentuknya berbeda-beda atau mengumpulkan
semua benda bulat walau warnanya berbeda-beda.
Menurut Piaget, tahapan
pra-operasional mengikuti tahapan sensorimotor dan muncul antara usia dua
sampai enam tahun. Dalam tahapan ini, anak mengembangkan keterampilan berbahasanya. Mereka mulai
merepresentasikan benda-benda dengan kata-kata dan gambar. Bagaimanapun, mereka
masih menggunakan penalaran intuitif bukan logis. Di permulaan tahapan ini,
mereka cenderung egosentris, yaitu, mereka tidak dapat memahami tempatnya di
dunia dan bagaimana hal tersebut berhubungan satu sama lain. Mereka kesulitan
memahami bagaimana perasaan dari orang di sekitarnya. Tetapi seiring
pendewasaan, kemampuan untuk memahami perspektif orang lain semakin baik. Anak
memiliki pikiran yang sangat imajinatif di saat ini dan menganggap setiap benda
yang tidak hidup pun memiliki perasaan.
Tahapan operasional
konkrit
Tahapan ini adalah
tahapan ketiga dari empat tahapan. Muncul antara usia enam sampai duabelas
tahun dan mempunyai ciri berupa penggunaan logika yang
memadai. Proses-proses penting selama tahapan ini adalah:
Pengurutan kemampuan untuk mengurutan objek menurut
ukuran, bentuk, atau ciri lainnya. Contohnya, bila diberi benda berbeda ukuran,
mereka dapat mengurutkannya dari benda yang paling besar ke yang paling kecil.
Klasifikasi kemampuan
untuk memberi nama dan mengidentifikasi serangkaian benda menurut tampilannya,
ukurannya, atau karakteristik lain, termasuk gagasan bahwa serangkaian
benda-benda dapat menyertakan benda lainnya ke dalam rangkaian tersebut. Anak
tidak lagi memiliki keterbatasan logika berupa animisme (anggapan bahwa semua
benda hidup dan berperasaan).
Decentering anak mulai
mempertimbangkan beberapa aspek dari suatu permasalahan untuk bisa
memecahkannya. Sebagai contoh anak tidak akan lagi menganggap cangkir lebar
tapi pendek lebih sedikit isinya dibanding cangkir kecil yang tinggi.
Reversibility anak
mulai memahami bahwa jumlah atau benda-benda dapat diubah, kemudian kembali ke
keadaan awal. Untuk itu, anak dapat dengan cepat menentukan bahwa 4+4 sama
dengan 8, 8-4 akan sama dengan 4, jumlah sebelumnya.
Konservasi memahami
bahwa kuantitas, panjang, atau jumlah benda-benda adalah tidak berhubungan
dengan pengaturan atau tampilan dari objek atau benda-benda tersebut. Sebagai
contoh, bila anak diberi cangkir yang seukuran dan isinya sama banyak, mereka
akan tahu bila air dituangkan ke gelas lain yang ukurannya berbeda, air di
gelas itu akan tetap sama banyak dengan isi cangkir lain.
Penghilangan sifat
Egosentrisme kemampuan untuk melihat sesuatu dari sudut pandang orang lain
(bahkan saat orang tersebut berpikir dengan cara yang salah). Sebagai contoh,
tunjukkan komik yang memperlihatkan Siti menyimpan boneka di dalam kotak, lalu
meninggalkan ruangan, kemudian Ujang memindahkan boneka itu ke dalam laci,
setelah itu baru Siti kembali ke ruangan. Anak dalam tahap operasi konkrit akan
mengatakan bahwa Siti akan tetap menganggap boneka itu ada di dalam kotak walau
anak itu tahu bahwa boneka itu sudah dipindahkan ke dalam laci oleh Ujang.
Tahapan operasional
formal
Tahap operasional
formal adalah periode terakhir perkembangan kognitif dalam teori Piaget. Tahap
ini mulai dialami anak dalam usia sebelas tahun (saat pubertas)
dan terus berlanjut sampai dewasa. Karakteristik tahap
ini adalah diperolehnya kemampuan untuk berpikir secara abstrak, menalar secara
logis, dan menarik kesimpulan dari informasi yang tersedia. Dalam tahapan ini,
seseorang dapat memahami hal-hal seperti cinta, bukti logis, dan nilai. Ia
tidak melihat segala sesuatu hanya dalam bentuk hitam dan putih, namun ada
"gradasi abu-abu" di antaranya. Dilihat dari faktor biologis, tahapan ini muncul
saat pubertas (saat terjadi berbagai perubahan besar lainnya), menandai
masuknya ke dunia dewasa secara fisiologis, kognitif, penalaran moral, perkembangan
psikoseksual, dan perkembangan sosial. Beberapa orang tidak sepenuhnya mencapai
perkembangan sampai tahap ini, sehingga ia tidak mempunyai keterampilan
berpikir sebagai seorang dewasa dan tetap menggunakan penalaran dari tahap
operasional konkrit.
Informasi umum mengenai
tahapan-tahapan
Keempat tahapan ini
memiliki ciri-ciri sebagai berikut:
1. Walau
tahapan-tahapan itu bisa dicapai dalam usia bervariasi tetapi urutannya selalu
sama. Tidak ada ada tahapan yang diloncati dan tidak ada urutan yang mundur.
2. Universal
(tidak terkait budaya)
3. Bisa
digeneralisasi: representasi dan logika dari operasi yang ada dalam diri
seseorang berlaku juga pada semua konsep dan isi pengetahuan
Tahapan-tahapan
tersebut berupa keseluruhan yang terorganisasi secara logis
Urutan tahapan bersifat
hirarkis (setiap tahapan mencakup elemen-elemen dari tahapan sebelumnya, tapi
lebih terdiferensiasi dan terintegrasi)
Tahapan
merepresentasikan perbedaan secara kualitatif dalam model berpikir, bukan hanya
perbedaan kuantitatif.
Menurut Piaget,
perkembangan masing-masing tahap tersebut merupakan hasil perbaikan dari
perkembangan tahap sebelumnya. Setiap individu akan melewati serangkaian
perubahan kualitatif yang bersifat invarian, selalu tetap, tidak melompat atau
mundur. Perubahan ini terjadi karena tekanan biologis untuk menyesuaikan diri
dengan lingkungan serta adanya pengorganisasian struktur berpikir.
C. Struktur
yang Mendasari Pola-pola Tingkah Laku yang Terorganisir.
1. Skema
(struktur kognitif)
Adalah proses atau cara
mengorganisir dan merespons berbagai pengalaman. Atau suatu pola sistematis
dari tindakan, perilaku, pikiran, dan strategi pemecahan masalah yang
memberikan suatu kerangka pemikiran dalam menghadapi berbagai tantangan dan
jenis situasi.
Contoh : Gerakan
refleks menghisap pada bayi, ada gerakan otot pada pipi dan bibir yang
menimbulkan gerakan menghisap.
2. Adaptasi
(struktur fungsional)
Piaget menggunakan
istilah ini untuk menunjukkan pentingnya pola hubungan individu dengan
lingkungannya dalam proses perkembangan kognitif. Piaget yakin bahwa bayi
manusia ketika dilahirkan telah dilengkapi dengan kebutuhan-kebutuhan dan juga
kemampuan untuk menyesuaikan diri dengan lingkungannya.
Menurut Piaget, ada dua
proses adaptasi yaitu :
a) Asimilasi
Integrasi antara
elemen-elemen eksternal (dari luar) terhadap struktur yang sudah lengkap pada
organism. Asimilasi terjadi ketika individu menggunakan informasi baru ke dalam
pengetahuan mendalam yang sudah ada.
Contoh : Seorang bayi
yang menghisap puting susu ibunya atau dot botol susu, akan melakukan tindakan
yang sama (menghisap) terhadap semua objek baru.
b) Akomodasi
Menciptakan langkah baru
atau memperbarui atau menggabung-gabungkan istilah lama untuk menghadapi
tantangan baru. Akomodasi kognitif berarti mengubah struktur kognitif yang
telah dimiliki sebelumnya untuk disesuaikan dengan objek stimulus eksternal.
Contoh : bayi melakukan
tindakan yang sama terhadap ibu jarinya, yaitu menghisap. Ini berarti bahwa
bayi telah mengubah puting susu ibu menjadi ibu jari.
c) Teori Belajar Sosial Bandura
Bandura mempercayai bahwa model akan mempunyai
pengaruh yang
paling efektif apabila mereka dianggap atau dilihat sebagai orang yang
mempunyai kehormatan, kemampuan, status tinggi, dan juga kekuatan,
sehingga dalam banyak hal seorang guru bisa menjadi model yang paling
berpengaruh.
d) Pengolahan Informasi Norman
Norman melihat bahwa materi baru akan dipelajari
dengan menghubungkannya dengan sesuatu yang sudah diketahuinya, yang dalam
teorinya di sebut learning by analogy. Pengajaran yang efektif memerlukan guru
yang mengetahui struktur kognitif siswa.
Konstruktivisme adalah integrasi prinsip yang
diekplorasi melalui teori chaos, network, dan teori kekompleksitas dan
organisasi diri. Belajar adalah proses yang terjadi dalam lingkungan
samar-samar dari peningkatan elemenelemen inti- tidak seluruhnya dikontrol oleh
individu. Bagi kaum konstruktivis, mengajar bukanlah kegiatan memindahkan
pengetahuan dari guru kepada siswa, melainkan suatu penciptaan suasana yang
memungkinkan siswa membangun sendiri pengetahuannya. Mengajar berarti
partisipasi aktif guru bersama-sama siswa dalam membangun pengetahuan, membuat
makna, mencari kejelasan, bersikap kritis.
Prinsip-prinsip konstruktivisme
sebagaimana yang diungkapkan Siemens (2005) adalah:
Ø Belajar dan pengetahuan terletak
pada keberagaman opini.
Ø Belajar adalah suatu proses
menghubungkan (connecting)sumber-sumber
informasi tertentu.
Ø Belajar mungkin saja terletak bukan
pada manusia.
Ø Kapasitas untuk mengetahui lebih
banyak merupakan hal yang lebih penting dari pada apa yang diketahui sekarang.
Ø Memelihara dan menjaga
hubungan-hubungan (connections)
diperlukan untuk memfasilitasi belajar berkelanjutan.
Ø Kemampuan untuk melihat hubungan
antara bidang-bidang, ide-ide, dan konsep merupakan inti keterampilan.
Ø Saat ini (pengetahuan yang akurat
dan up-to-date) adalah maksud dari
semua aktivitas belajar konektivistik.
Ø Penentu adalah proses belajar itu
sendiri. Pemilihan atas apa yang dipelajari dan makna dari informasi yang masuk
nampak melalui realita yang ada.
Konstruktivisme juga menyatakan
tantangan yang dihadapi dalam pengelolaan aktivitas. Pengetahuan yang
dibutuhkan dihubungkan (to be connected) dengan orang yang tepat dalam
konteks yang tepat agar dapat diklasifikasikan
sebagai belajar. Starting point konstruktivisme
adalah individu. Pengetahuan personal terdiri
dari jaringan, yang hidup dalam organisasi atau institusi, yang pada gilirannya
memberi umpan balik pada jaringan itu, dan kemudian terus menerus member
pengalaman belajar kepada individu. Gerak perkembangan pengetahuan (personal ke
jaringan ke organisasi) memungkinkan pebelajar tetap mutakhir dalam bidangnya
melalui hubungan (connections) yang
mereka bentuk.
Mazhab
humanistik pula berpendapat pembelajaran manusia bergantung kepada emosi dan
perasaannya. Seorang ahli mazhab ini, Carl Rogers menyatakan bahawa setiap
individu itu mempunyai cara belajar yang berbeda dengan individu yang lain.
Oleh itu, strategi dan pendekatan dalam proses pengajaran dan pembelajaran
hendaklah dirancang dan disusun mengikut kehendak dan perkembangan emosi
pelajar itu. Beliau juga menjelaskan bahawa setiap individu mempunyai potensi
dan keinginan untuk mencapai kecemerlangan. Maka, guru hendaklah menjaga
pelajar dan memberi bimbingan supaya potensi mereka dapat diperkembangkan ke
tahap optimum.
Menurut Teori
humanistik, tujuan belajar adalah untuk memanusiakan manusi\proses belajar
dianggap berhasil jika si pelajar memahami lingkungannya dan dirinya sendiri.
Siswa dalam proses belajarnya harus berusaha agar lambatlaun ia mampu mencapai
aktualisasi diri dengan sebaik-baiknya. Teori belajar ini berusaha memahami
perilaku belajar dari sudut pandang pelakunya, bukan dari sudut pandang
pengamatnya
Tujuan
utama teori humanistik adalah pendidik membantu siswa untuk mengembangkan
dirinya, untuk mengenal diri mereka sendiri sebagai manusia yang unik dan
membantu dalam mewujudkan potensi-potensi yang ada dalam diri mereka. Para ahli
humanistik melihat adanya dua bagian pada proses belajar, ialah:
1. Proses pemerolehan informasi baru.
2. Personalia informasi ini pada
individu
Implikasi Teori Belajar Humanistik
a. Guru Sebagai Fasilitator
Psikologi humanistik memberi
perhatian atas guru sebagai fasilitator yang berikut ini adalah berbagai cara
untuk memberi kemudahan belajar dan berbagai kualitas sifasilitator. Ini
merupakan ikhtisar yang sangat singkat dari beberapa guidenes(petunjuk):
1. Fasilitator sebaiknya memberi
perhatian kepada penciptaan suasana awal, situasi kelompok, atau pengalaman
kelas
2. Fasilitator membantu untuk
memperoleh dan memperjelas tujuan-tujuan perorangan di dalam kelas dan juga
tujuan-tujuan kelompok yang bersifat umum.
3. Dia mempercayai adanya keinginan
dari masing-masing siswa untuk melaksanakan tujuan-tujuan yang bermakna bagi
dirinya, sebagai kekuatan pendorong, yang tersembunyi di dalam belajar yang
bermakna tadi.
4. Dia mencoba mengatur dan menyediakan
sumber-sumber untuk belajar yang paling luas dan mudah dimanfaatkan para siswa
untuk membantu mencapai tujuan mereka.
5. Dia menempatkan dirinya sendiri
sebagai suatu sumber yang fleksibel untuk dapat dimanfaatkan oleh kelompok.
6. Di dalam menanggapi
ungkapan-ungkapan di dalam kelompok kelas, dan menerima baik isi yang bersifat
intelektual dan sikap-sikap perasaan dan mencoba untuk menanggapi dengan cara
yang sesuai, baik bagi individual ataupun bagi kelompok
7. Bilamana penerima kelas telah
mantap, fasilitator berangsur-sngsur dapat berperanan sebagai seorang siswa
yang turut berpartisipasi, seorang anggota kelompok, dan turut menyatakan
pendangannya sebagai seorang individu, seperti siswa yang lain.
8. Dia mengambil prakarsa untuk ikut
serta dalam kelompok, perasaannya dan juga pikirannya dengan tidak menuntut dan
juga tidak memaksakan, tetapi sebagai suatu andil secara pribadi yang boleh
saja digunakan atau ditolak oleh siswa.
9. Dia harus tetap waspada terhadap
ungkapan-ungkapan yang menandakan adanya perasaan yang dalam dan kuat selama
belajar. Di dalam berperan sebagai seorang fasilitator, pimpinan harus mencoba
untuk menganali dan menerima keterbatasan-keterbatasannya sendiri.
Teori Kecerdasan Ganda (Multiple
Inteligence) yang dikemukakan oleh
Howard
Gardner –
seorang professor psikologi dari Harvard University – akan dijadikan
acuan untuk lebih memahami bakat dan kecerdasan individu.
Pada dasarnya siswa adalah individu
yang unik. Setiap siswa memiliki potensi dan kemempuan yang berbeda antara yang
satu dengan yang lain. Tidak semua individu memilki profil intelegensi yang
sama. Setiap individu juga memilki bakat dan minat belajar yang berbeda-beda.
Terdapat tujuh jenis kecerdasan
dasar yaitu
1. Kecerdasan Bahasa
2. Kecerdasan Matematis/Logis
3. Kecerdasan Spasial
4. Kecerdasan Kinestetik
5. Kecerdasan Musikal
6. Kecerdasan Interpersonal
7. Kecerdasan Naturalis
Guru memegang peran penting dalam implementasi teori
kecerdasan ganda. Agar implementasi teori kecerdasan ganda dapat mencapai hasil
yang diinginkan ada dua hal yang perlu diperhatikan:
·
Kemampuan
guru dalam mengenali kecerdasan individu siswa.
·
Kemampuan
mengajar dan memanfaatkan waktu mengajar secara proporsional.
Kemampuan guru dalam mengenali
kecerdasan ganda yang dimiliki oleh siswa merupakan hal yang sangat penting.
Faktor ini akan sangat menentukan dalam merencanakan proses belajar yang harus
ditempuh oleh siswa. Ada banyak cara yang dapat dilakukan oleh guru untuk
mengenali kecerdasan spesifik yang dimiliki oleh siswa. Semakin dekat hubungan
antara guru dengan siswa, maka akan semakin mudah bagi para guru untuk
mengenali karakteristik dan tingkat kecerdasan siswa.
Implementasi teori kecerdasan ganda
membawa implikasi bahwa guru bukan lagi berperan sebagai sumber (resources),
tapi harus lebih berperan sebagai manajer kegiatan pembelajaran. Dalam
menerapkan teori kecerdasan ganda, sistem sekolah perlu menyediakan guru-guru
yang kompeten dan mampu membawa anak mengembangkan potensi-potensi kecerdasan
yang mereka miliki. Guru musik misalnya, selain mampu memainkan instrumen
musik, ia juga harus mampu mengajarkannya sehingga dapat menjadi panutan yang
baik bagi siswa yang memiliki kecerdasan musikal.
Pembelajaran adalah proses interaksi
peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar.
Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi
proses pemerolehan ilmu dan pengetahuan , penguasaan kemahiran dan tabiat , serta
pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain,
pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar
dengan baik. Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta
dapat berlaku di manapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang
mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam
konteks pendidikan , guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan
menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek
kognitif), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta
keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi
kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja. Sedangkan
pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta
didik.
Berbicara mengenai teori
pembelajaran tentu pula harus dibicarakan mengenai teori belajar. Bruner dalam
Degeng (1989) mengemukakan bahwa teori pembelajaran adalah preskriptif, sedangkan
teori belajar adalah deskriptif. Preskriptif artinya, tujuan teori pembelajaran
adalah menetapkan metode/strategi pembelajaran yang cocok supaya memperoleh
hasil optimal. Teori pembelajaran menaruh perhatian pada bagaimana seseorang
mempengaruhi orang lain agar terjadi proses belajar.Ada beberapa teori
pembelajaran, yaitu:
Jenis
pengondisian di mana individu merespons beberapa stimulus yang tidak biasa dan
menghasilkan respons baru. Teori ini tumbuh berdasarkan eksperimen untuk
mengajari anjing mengeluarkan air liur sebagai respons terhadap bel yang
berdering, dilakukan pada awal tahun 1900-an oleh seorang ahli fisolog Rusia
bernama Ivan Pavlov.
Jenis pengondisian di mana perilaku
sukarela yang diharapkan menghasilkan penghargaan
atau mencegah sebuah hukuman.
Kecenderungan untuk mengulang perilaku seperti ini dipengaruhi oleh ada atau
tidaknya penegasan dari konsekuensi-konsekuensi yang dihasilkan oleh perilaku.
Dengan demikian, penegasan akan
memperkuat sebuah perilaku dan meningkatkan kemungkinan perilaku tersebut
diulangi. Apa yang dilakukan Pavlov untuk pengondisian klasik, oleh psikolog
Harvard, B. F. Skinner, dilakukan pengondisian operant. Skinner mengemukakan
bahwa menciptakan konsekuensi yang menyenangkan untuk mengikuti bentuk perilaku
tertentu akan meningkatkan frekuensi perilaku tersebut.
Pandangan bahwa orang-orang dapat belajar
melalui pengamatan dan pengalaman langsung. Meskipun teori pembelajaran sosial adalah
perluasan dari pengondisian operant -teori ini berasumsi bahwa perilaku adalah
sebuah fungsi dari konsekuensi- teori ini juga mengakui keberadaan pembelajaran
melalui pengamatan dan pentingnya persepsi
dalam pembelajaran.
Teori Belajar
1.
Teori
belajar behavoritisme
Belajar pada hakikatnya adalah pembentukan asosiasi antara
kesan yang ditangkap panca indra dengan kecemderungan untuk bertindak atau
hubungan antara stimulus dan respons (R-S).
2.
Teori
belajar kognitif
Belajar adalah pengorganisasian aspek-aspek kognitif dan
perseptual untuk memperoleh pemahaman. Tujuan dan tingkahlaku sangat
dipengaruhi oleh proses berfikir internal yang terjadi selama proses belajar
3.
Teori
belajar konstruktivisme
Belajar konstruktivisme adalah menghasilkan individu atau
anak yang memiliki kemampuan berfikir untuk menyelesaikan setiap persoalan yang
dihadapi
4.
Teori
belajar humanistik
Teori
belajar yang didasari pada pembelajaran manusia bergantung kepada emosi dan
perasaannya.
5.
Teori
belajar kecerdasan ganda
Tujuh jenis kecerdasan dasar yaitu: Kecerdasan Bahasa,
Kecerdasan Matematis/Logis, Kecerdasan Spasial, Kecerdasan Kinestetik,
Kecerdasan Musikal, Kecerdasan Interpersonal, Kecerdasan Naturalis.
Teori
Pembelajaran
1.
Teori
Pembelajaran pengkondisian klasik
2.
Teori
pembelajaran pengkondisian operant
3.
Teori
pembelajaran sosial
Makalah Teori-Teori Belajar dan Pembelajaran telah
diselesaikan oleh penulis,sekiranya pembaca merasa puas dengan tulisan ini.
Penulis meminta agar pembaca memberika saran dan kritikannya.
Sanjaya ,Wina (2009).Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar
Prosses Pendidikan.Jakarta:Kencana.
widya57physicsedu.files.wordpress.com